Akankah Trend Sneaker Surut?

2020 seharusnya menjadi tahun yang gemilang, tahun dimana berbagai brand dari segala lini berniat melakukan milestone nya. Kami yakin niatan ini bukan tanpa dasar, angka tahun ini memang bagus banget 2020. Dibuat gimmick enak, dibuat sebagai print di tshirt enak, dibuat apapun enak. Tapi lalu datang pandemi.

Pandemi Covid-19 ini pada awalnya diperkirakan akan berlangsung tidak lama, tapi kalau diperhatikan setiap kota yang membuka kembali aktivitasnya dari sebelumnya lockdown, angka penderitanya terus bertambah. Seoul, Tokyo, Melbourne, Los Angeles, kembali menyatakan keadaan darurat setelah angka penderita kembali bertambah. Indonesia? Yas jelas naik terus.

Hal ini berdampak ke daya beli orang terhadap sebuah produk. Memang ketika retail buka kembali, kita berbondong bondong menyerbu barang barang yang kita rasa kita telah tertinggal di masa releasenya, tapi kemudian kita bertanya kembali, kapan ya dipakainya, termasuk sneakers.

Ini kemudian berpengaruh ke jenis barang yang kita beli, karena tetap saja di era fast fashion seperti ini, ada saja yang mau kita beli, tapi jenisnya lalu berbeda. Banyak dari kita lebih memilih untuk membeli sesuatu yang lebih membuat nyaman tinggal dirumah, tentunya karena kita tidak bisa sembarangan keluar rumah. Pembelian barang fashion tersebut lalu beralih ke tanaman, makanan, barang dekorasi rumah, alat olahraga rumah, sampai sepeda. Jadilah sepeda yang trend gila gilaan sekarang.

Perkiraan kami, hal ini pun berefek ke sneakers. Kami setuju ketika sneakers telah mengalami perubahan zaman secara berdekade dan tetap menjadi sesuatu yang digemari. Tapi Covid lah yang belum pernah terjadi sama sekali.

Tahun ini bisa dibilang sneaker release sangat lah gencar. Ini bukanlah tanpa sengaja. Sneakers yang release tahun ini sudah melewati 1 atau 2 tahun persiapan, jadi semua yang release tahun ini sidah direncanakan tahun lalu bahkan di produksi dan di kembangkan adri 2 tahun lalu, jauh sebelum ada perkiraan pandemi.

Yang menarik adalah ketika pandemi banyak sekali pabrik didunia tutup dan tidak beroperasi, banyak sekali retail tutup dan ketika buka lalu mengalami penurunan profit yang berakibat penurunan nett income juga pada brand. Lalu bagaimana nasib sneaker yang di release di tahun tahun mendatang.

Dari model saja, tahun ini Jordan brand banyak sekali merelease warna Air Jordan 1 yang disesuaikan dengan warna yang cocok untuk perempuan, belum lagi warna lainnya yang direlease secara masif. Begitu pula dengan Yeezy, jenis 350 V2 dengan berbagai macam warna banyak sekali di release. Adidas yang bisa dibilang telah lewat masa trendnya beberapa tahun ini turut merasakan lesunya daya beli di model model general release nya, seperti pada Ultra Boost, Superstar dan lain lain, sehingga model model tersebut seringkali mengalami discount.

Line baru juga dikeluarkan Nike dengan tema tech neo punk nya bernapa ISPA kependekan dari Improvise Scavenge Protect and Adapt. Sebuah line khusus yang menurut kami terlalu advance untuk masyarakat saat ini, terlalu futuristik. Terbukti dari data sales beberapa multi brand store, lini ini tidak terlalu menjual.

APA YA PENYEBABNYA

Lantas apa yang menyebabkan ini, kejenuhan orang kah, menurunnya daya beli kah, pengalihan objek belanja kah, menahan cash kah, atau simply model yang tidak menarik lagi. Sesuatu yang justru trend di tahun ini dan sebelumnya adalah thrifting, membeli barang bekas. Dimana mana orang sibuk menata rumah dan melakukan pengurangan barang atau decluttering.

Yes spending masih sangat diperlukan agar ekonomi berputar tapi kami melihat gejala kini orang orang berbelanja seperlunya saja. Para sneakerhead pun ketimbang mencari model baru biasanya akan mengejar produk lama yang dulu mereka tidak sempat memiliki. Kalau pun membeli model baru biasanya akan lebih kepada sesuatu yang worth to collect dan memiliki nilai resell yang nantinya bisa tinggi.

Tapi kembali lagi, begitu tinggi nya nilai resell di masa pandemi ini, berapa persen lantas dari masyarakat yang memiliki kemampuan beli tersebut. Teman teman bisa nilai sendiri.

Kombinasi semua pukulan bertubi tubi ini, kami rasa bakalan berpengaruh ke keputusan brand merelease sebuah produk di tahun tahun mendatang. Bisa jadi tahun depan siluet yang keluar lebih sedikit dari tahun ini.

Kemampuan beli konsumen sudah terpengaruhi, infrastruktur produsen juga terdampak. Akankah sneaker kembali menjadi sub kultur setelah menjadi pop kultur di beberapa tahun ini, kita pantau terus saja tahun ini sampai ia berakhir.

Harapan kami ya semoga industri asik ini masih tetap bergejolak. Mungkin turun, tapi kalau mati sih ngga ya, toh manusia sampai sekarang berjalan masih perlu alas kali kan.