Jatuhnya Seniman Terbesar Era Ini

Beberapa hari lalu di sebuah sore di ruang kerja Soboyow, kopi panas dihirup dari sebuah mug dengan logo bunga. Tanpa disadari kaos yang saya pakai berlogo bunga, topi yang dipakai pun berlogo bunga. Logo bunga ini bernama Kai Kai, karakter yang dibuat oleh seorang seniman kontemporer yang bisa dibilang salah satu yang paling sukses di akhir dekade ini, Takashi Murakami. Ternyata dibawah sadar, saya tenggelam, menggemari karya karyanya.

Bagaimana tidak. Agak sulit menghindari karya Takashi Murakami apabila anda penggemar pop art baik dari musik, sneaker, fashion, sampai film. Kolaborasi Murakami mencangkup medium yang begitu luas, mulai dari fashion retail seperti Uniqlo, karya tas jinjing dan backpack pada Porter, musik video bersama Kanye West dan Billie Eilish, art toys dengan karakternya sendiri, sampai yang paling megah adalah membungkus satu event kultur pop modern, yaitu Complex Con, dengan karya karya uniknya.

Selasa 30 Juni 2020, melalui akun instagram resminya, Takashi Murakami mengumumkan bahwa dirinya dan perusahaannya diambang kebangrutan, akibat terefek pandemi Covid-19. Sontak hal ini menggegerkan seluruh stakeholder pop culture dunia.

Kok bisa? Bukankan Murakami adalah salah satu seniman kontemporer tersukses secara finansial di Bumi ini? Dan mulailah Murakami-san bercerita.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Takashi Murakami (@takashipom) on

Ancaman bangkrutnya Takashi Murakami ternyata bukan tanpa alasan. Runtuhnya sebuah bisnis dari kisah ke kisah biasanya disebabkan satu hal yang sama, salah dalam melakukan keputusan finansial. Murakami memang mempunyai pemasukan yang begitu besar dari royalti atau pembayaran penggunaan karakternya, namun ia juga begitu gencar dalam memulai dan membiayai beberapa proyeknya sendiri, dan sering kali proyek proyek ini memakan biaya yang tidak kecil.

Mulai dari membiayai sendiri karya berukuran besarnya untuk Walla Walla Foundry di Washington, sampai pembiayaan filmnya sendiri berjudul Jelly Fish Eye Part 1 dan Part 2, dimana film ini menghabiskan dana yang sangat besar dalam produksi CGI berskala masif bahkan belum termasuk promosinya.

Pembiayaan masif ini selayaknya mendapatnya return profit yang luar biasa pula, sampai kemudian datang pandemi Covid – 19. Seluruh dunia terjadi ketidakpastian. Orang – orang dicegah untuk berkumpul, acara berbentuk event tidak diizinkan, penayangan film ditunda, menyebabkan orang orang yang pekerjaannya bergantung pada ranah ini, tidak memiliki kepastian pemasukan, return investment menjadi tidak jelas.

Disinilah Murakami mengakui kesalahannya, bahwa keputusan finansial yang tidak bijak telah ia lakukan dengan membiayai sendiri semua proyek-proyeknya yang dilakukannya dengan tergesa-gesa.

IDEALIS VS KOMERISALIS

Menjadi seorang seniman yang idealis bukanlah salah, justru menjadi idealis sangatlah diperlukan agar karya seniman terjaga dalam marwah nya.

Namun seringkali pola pikir ini membutakan sebuah keputusan, dimana pertimbangan matang diperlukan terutama dalam era yang sedang tidak pasti ini. Tidaklah salah juga apabila financial partner diajak masuk ke dalam ranah bisnis komersialisasi karya seorang seniman, tujuannya tak lain, adalah untuk menjadi pengaman akan visi seorang pengkarya yang kadang terlalu ambisius.

Disatu sisi peran pengaman ini, tidak boleh juga terlalu mendominasi. Seni adalah sesuatu yang dijalankan dengan berasaskan hati. 99% yang tertuang dalam sebuah karya adalah pengalaman atau interpretasi emosional sang seniman. Terlalu banyak campur tangan seorang, atau suatu institusi finansial yang mungkin berperan sebagai investor, bisa mencederai makna sebuah karya. Biasanya, karya yang dibuat untuk mencari cuan, malah justru tidak digemari karena hilangnya soul penciptanya.

Inilah sisi magis sebuah bisnis karya. Setiap elemen di dalamnya harus dilakukan dengan kesimbangan yang extra hati hati, sehingga mensejahterakan semua pihak.

Murakami adalah seniman kontemporer pertama yang mengutarakan ujung kebangkrutannya akibat pandemi. Dilain sisi, seniman kontemporer besar yang juga kita kenal KAWS, tidak ada bunyinya.

Kami pun turut berdiskusi dengan beberapa seniman kontemporer lokal, untuk mencoba peduli keadaan mereka di era pandemi ini, tapi, mereka nyatanya sangat baik baik saja. Teman teman seniman modern seperti Muklay, Stereoflow, dan Abenk Alter masih berkarya dengan giatnya, mengerjakan beberapa proyek privat, yang hasil monetisasinya membuat kami tercengang, tercengang karena luar biasa bagus dan membuat kami berfikir jangan jangan kami salah profesi.

Lalu apa yang salah dengan Murakami.

Pada postingan tanggal 2 Juli 2020, Murakami menjelaskan. Misinya begitu besar dan begitu konstan nya sehingga ia membayangkan bahwa dirinya adalah cerminan era modern ini. Keberadaan seorang seniman menggambarkan kebesaran sebuah zaman, begitu yang ia pahami.

Ide besar ini membuatnya sekuat tenaga dan secara bersamaan melakukan semua kesempatan dan semua ide yang ia bisa lakukan, sendirian.

Ketika pandemi datang, semuanya runtuh, dan tertimpa juga Murakami sendirian. 

Menelaah kisahnya kami sebagai penggemarnya sangat berharap andai saja Takashi Murakami mempunyai financial partner yang mensponsori semua kegiatannya dan timnya, agar dirinya dan perusahaannya berjalan seimbang, tapi sepertinya Murakami sangat idealis dalam menjaga kemurnian karyanya.

Ya, Murakami belum bangkrut, tapi memang sudah diujung. Masih ada video musik Kanye West dan Kid Cudi yang sedang ia kerjakan dan entah proyek apalagi yang mungkin sedang menunggunya. Hanya kenyataan yang sedang terlalu pahit baginya.

Memang yang ideal, semuanya harus seimbang, sebagaimana apapun yang ada di alam ini. Ada panas ada dingin, ada hujan ada terik, ada hitam dan ada putih. Bumipun tidak mungkin berputar bila langit diatas hanyalah malam saja.