STREETWEAR IS (NOT) EVERYTHING

#BlackLivesMatter

Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan pemberitaan tentang protes besar-besaran yang terjadi di Amerika Serikat karena isu kebrutalan polisi yang dilandasi rasisme. Kematian dari George Floyd telah memantik gelombang protes di seluruh negeri yang dibumbui konflik dengan aparat berwajib. Tuntutan masyarakat AS jelas : mereka menuntut keadilan dan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga non kulit putih baik oleh kepolisian maupun negara. Namun, sangat disayangkan protes yang historis ini diwarnai beberapa aksi penjarahan oleh beberapa oknum. Penjarahan terjadi di beberapa kota besar seperti di L.A, New York, Washington D.C, dan Minneapolis. Pertanyaan pun muncul : Apa yang dijarah? Kenapa mereka menjarah? Trus, apa hubungannya dengan kita di sini?

When the looting starts.

Salah satu yang menjadi highlight dari peristiwa penjarahan yang terjadi adalah dihajarnya toko brand-brand luxury, streetwear, dan sneakers di beberapa daerah. Sebut saja di daerah downtown LA, para penjarah menghajar toko-toko di sepanjang Fairfax, Melrose Avenue, Beverly Boulevard, dan sekitarnya. Brand lokal AS yang berdiri bersama komunitas seperti HUF, Round Two, dan toko sneakers Flight Club pun terkena imbas. Store Louis Vuitton di Portland tidak luput dari jarahan massa, padahal terletak di dalam sebuah Mall. Sebuah Art Gallery (5Art Gallery) di L.A yang menyimpan karya-karya dari seniman seperti Banksy, Invader, dan Takashi Murakami pun juga kena, sampai-sampai ada penjarah yang mengambil sebuah patung dari KAWS setinggi 1.5 Meter. Tak jarang mereka memamerkan hasil rampasan nya ke kamera yang menyorot, seakan bangga sehabis menang raffle.

Sad but True

Fenomena ini menarik sekaligus menyedihkan; di saat ekonomi terpuruk karena pandemi, jumlah pengangguran meningkat tajam (40 juta orang hilang pekerjaan), penjarahan terjadi untuk brand-brand luxury yang sebenarnya adalah kebutuhan tersier. Dihancurkannya toko-toko tersebut menimbulkan masalah baru : para pemilik brand / toko yang sudah kehilangan pemasukan selama 3 bulan terakhir, sekarang harus memulai lagi dari 0. Bagi mereka yang pernah membangun brand / berjualan pasti paham betapa sulitnya melakukan semua itu secara konsisten selama bertahun-tahun. Menyedihkan juga karena budaya streetwear sebenarnya adalah berkomunitas, mereka adalah “neighborhood” yang saling berbagi kreasi dan empower satu sama lain. Streetwear menurut namanya lahir dari jalanan, tapi sekarang juga “rusak” karena jalanan.

“Streetwear is a community. It’s groups of friends that have a common bond. We hang out on street corners, fight with each other, fight for each other … ‘Streetwear’ is yelling [at] shop staff, starting fights at lineups, defaming us cause we didn’t get enough pairs of shoes cause everyone can’t get a pair.

“Streetwear is a culture. ‘Streetwear’ is a commodity.”
~Virgil Abloh

Di Indonesia

Sementara itu negara kita, banyak juga yang mengutuk namun juga yang menyedihkan adalah banyaknya orang yang ikut-ikutan “iri” tidak bisa ikutan menjarah. Shocking. Segitu cemen-nya kah harga diri kita sehingga kita iri terhadap orang yang bisa dapat AirMax Travis Scott hasil curian? Segitu penting nya kah sebuah sepatu, baju, atau patung KAWS dibandingkan isu sesungguhnya : ketidakadilan, kesejahteraan, equality, dan humanisme? Segitu tidak sensitifnya kah kita terhadap sesama manusia?

Potret Diri

Kita mungkin selama ini terbuai dengan orang-orang terkenal, influencers di social media, selebriti, bintang olahraga, dan lain-lain dengan apa yang mereka pakai, bukan apa yang mereka buat. “Wah si influencer X pake sepatu grail nih, ya jelas pasti punya orang dalem”. Pemikiran yang mungkin sering muncul di benak kita saat lihat postingan di IG. “Wah si seleb Y keren banget sweater nya, ya iyalah palingan endorse-an”. Nyinyiran yang juga sering kita lakukan di saat kita merasa lemah, tidak mampu, dan iri terhadap barang orang lain. Kita sangatlah terfokus terhadap object (WHAT) : barang apa, semahal apa, siapa yang pakai; bukan esensi (WHY) : kenapa saya suka, apakah saya mampu, kenapa saya harus punya. Kita sering bias terhadap kesuksesan adalah melalui barang-barang yang kita punya, bukan kreasi apa yang telah kita buat, pencapaian apa yang telah kita raih atau dampak positif apa yang telah kita ciptakan. Kita menjadi manusia material yang segala sesuatunya harus diukur berdasarkan Rupiah. Kita gampang ter-triggered gara-gara postingan barang mewah orang lain. Cemen banget.

Streetwear is about Personality

Budaya komersialisme dan materialisme di sini memang menggeser harfiah dari street culture itu sendiri, yang seharusnya dinikmati, dirayakan, dan dijadikan inspirasi. Budaya streetwear yang tercipta di jalanan adalah manifestasi dari karya kreasi komunitas yang memiliki kesamaan visi. Dan yang terpenting dari budaya ini adalah : jati diri / personality, bukan ingin sama seperti orang lain, bukan ingin ikut-ikutan. Jati diri tentu-nya timbul karena preferensi (kenapa saya memilih brand ini, apa pentingnya brand ini bagi saya), dan juga kemampuan diri (apakah pemasukan saya sudah memungkinkan untuk saya membeli brand ini). Converse basic gak bakal kalah keren kok dengan AJ 1 Offwhite jika memang itu jati diri kamu; kaos brand lokal ga bakal kalah keren dengan T-Shirt Supreme kalo kamu ngerti padu padannya yang pas. Every brands have their own story and it’s up to you to interpret them, the way you enjoy any work of arts.

Banggakanlah Ceritanya

Rayakanlah dan nikmatilah streetwear karena kamu suka kreasinya, suka sama filosofinya, suka sama cerita dari foundernya, atau sejarahnya. Hargai perjuangan setiap orang di belakang brand yang kamu suka : ada designer, ada pekerja pabrik, ada si OB yang bikinin kopi buat yang lembur, ada admin yang jawab-jawabin DM kamu. Streetwear hidup dan menjadi besar karena kita menghargai mereka dan selalu ikut meramaikan cerita-cerita mereka.

Gak perlu iri-irian, gak perlu nyinyir-nyinyiran, gak perlu banding-bandingan. Percaya aja, kamu akan tetap keren dengan barang yang kamu sanggup punya, asal kamu percaya diri dan kamu punya jati diri.

— opini di atas adalah pendapat pribadi penulis berdasarkan hasil observasi.