Masker Kain, Sebuah trend atau the new normal ?

Di masa pandemi ini, banyak sekali brand fashion lokal yang beralih ke membuat masker dengan tujuan untuk membantu menjaga stok masker medis agar dapat digunakan oleh pekerja medis saja. Dari satu sisi, masker kain merupakan sesuatu yang bersifat tahan lama dan bisa dipakai berulang kali. Lalu kalau begitu apakah brand fashion harus terus membuat masker?

Mungkin nggak kalau semua brand fashion mulai bikin masker, apa persediaan masker kain bakal ngelebihin minat beli (demand) dari masyarakat ?

Dalam pandemi ini, kita sering diperkenalkan pada sebuah fenomena yang disebut sebagai The New Normal, atau yang dibilang sebagai cara kita hidup sehari-hari setelah masa pandemi yang sama sekali baru. The New Normal mengkondisikan bahwa beberapa kebiasaan kita pada masa PSBB dan karantina di rumah ini akan terbawa pada saat karantina itu selesai. Dimana salah satunya adalah, masyarakat akan menjadi lebih berhati-hati tentang masalah kebersihan dan kesehatan. Ditambah lagi, dengan wacana pemerintah yang akan melonggarkan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), masyarakat diharapkan sudah dapat melakukan aktivitas normal seperti biasanya dengan waspada.

Mengingat itu, ada kemungkinan di dalam ‘The New Normal’, masker nggak lagi cuma jadi pelindung saat kita sedang beraktivitas, tetapi juga menjadi bagian dari daily outfit kita, bahkan akan dianggap sama dengan baju yang kita pakai, yang jadi bagian dari cara mengekspresikan diri saat pergi keluar.

Jika itu terjadi, fashionable mask mungkin akan menciptakan demand-nya tersendiri yang terfokus bukan hanya dari masalah fungsionalitas tapi juga faktor estetika masker itu sendiri. Bukan hanya dapat melindungi diri, tapi juga cocok dengan outfit sehari-hari.

Menurut kalian, apakah masker akan terus bertahan sebagai bagian dari The New Normal atau hanya akan menjadi sebuah trend di masa pandemi ini?