Bagaimana Aturan 51 Persen NBA menjadi Marketing Campaign dari Air Jordan

Akibat euforia dari The Last Dance, sebuah docu-series tentang Michael Jordan di akhir karirnya bersama Chicago Bulls, beredar sebuah foto di Internet mengenai Nike Air Ship, yang katanya adalah sebuah prototipe dari lini brand Nike Air Jordan yang kita kenal sekarang ini.

Pada awal 1980, NBA masih secara keras mengimplementasi regulasi 51 persen mereka. Dimana sneaker yang digunakan oleh pemain masih harus mengikuti warna dari tim mereka, dan 51 persen dari warna sepatu yang digunakan pun harus berwarna putih. Hal ini tentu membatasi kreativitas dari para desainer sepatu. Tahun 1984, Nike memberanikan diri melawan regulasi ini, mengajak seorang rookie dari NBA untuk menciptakan sebuah sepatu yang didominasi warna hitam dan merah.

Tahun 1984, Nike memberanikan diri melawan regulasi ini, mengajak seorang rookie dari NBA untuk menciptakan sebuah sepatu yang didominasi warna hitam dan merah.

Michael Jordan baru saja menekan kontrak bersama Nike di hari musim 1984 NBA dimulai. Karena itu, Nike membutuhkan waktu untuk menyempurnakan design sepatu yang akan digunakan oleh Jordan dan untuk sementara memberikan Nike Air Ship kepadanya. Air Ship merupakan salah satu bagian dari lini Air Force 1 yang pada saat itu menjadi sebuah sepatu andalan dari Nike. David Stern, komisaris NBA dimasa itu memutuskan untuk melarang sepatu berwarna hitam-merah itu untuk digunakan di game NBA, dan dari sana-lah sebutan ‘Banned’ melekat.

Source: Goodwin Sports

Nike, melihat hal ini sebagai kesempatan dan memutuskan untuk mengeksploitasi pelarangan ini menjadi marketing campaign untuk mereka dengan tagline “Nike memberikan desain sepatu basket yang revolusioner dan NBA melarangnya (untuk digunakan di pertandingan). Tapi NBA tidak dapat melarang kalian (para customer) untuk memakainya”. Hal yang menarik, adalah Nike menggunakan tagline ini untuk mengiklankan Air Jordan 1, bukan Nike Air Ship.

Sepatu apa yang sebenarnya dilarang oleh NBA kian sering menjadi perdebatan di dunia sneakers. Faktanya, NBA menyurati Jordan pada Februari 1985 dimana di dalam surat tersebut NBA menyinggung tentang pelanggaran kode etik tentang regulasi sepatu di NBA yang dilakukan Jordan pada 18 Oktober 1984.

Pada saat Jordan disurati oleh NBA, Jordan diketahui belum pernah sama sekali menggunakan Nike Air Jordan 1 untuk pertandingan. Sepatu Air Ship-lah yang digunakan oleh Jordan pada musim pre-season 18 Oktober 1984 melawan New York Knicks, dan adalah sepatu hitam-merah yang menarik perhatian David Stern.

 

Pada Maret 1985, Nike berhasil mengubah permasalahan dari NBA menjadi salah satu marketing campaign terbaik dalam sejarah. Air Jordan 1, menjadi awal dari sebuah lini brand yang menjadi sebuah legenda ternama di dunia basket maupun fashion. Sekarang, hampir 2 dekade dari game terakhirnya, Jordan dikabarkan menerima 130 Juta USD dari brand endorsement Jordan sendiri, menjadikannya salah satu atlet terkaya sepanjang masa.